September 11, 2010

Mengendalikan Kebiasaan Berfikir

Kedisiplinan dicapai dengan mengendalikan kebiasaan berpikir. Dan istilah “disiplin” hanya mengacu pada kekuatan pemikiran, karena semua kedisiplinan pasti berlangsung dalam pikiran, meskipun efeknya bisa dirasakan oleh berbagai fungsi tubuh fisik.
Di mana posisi Anda dan seperti apa Anda sekarang adalah hasil kebiasaan berpikir Anda !

Kebiasaan berpikir adalah target pengendalian!

Hak mengendalikannya berada di tangan Anda sepenuhnya. Karena sudah terbukti bahwa Sang Pencipta-lah yang memberikan keistimewaan besar ini. Jika tidak, Ia tak akan menjadikannya satu-satunya kondisi yang tali kendalinya diberikan eksklusif pada manusia.

Lebih jauh, bukti bahwa Sang Pencipta berkeinginan untuk memberikan hak pengendalian ini pada manusia terbaca jelas melalui hukum Daya Kebiasaan Semesta, media tempat kebiasaan berpikir dimantapkan dan dipermanenkan sehingga kebiasaan-kebiasaan itu menjadi otomatis dan berjalan tanpa upaya sengaja manusia.

Untuk saat ini, kami hanya ingin menarik perhatian Anda kepada fakta bahwa mekanisme agung Sang Penciptanya yang dikenal dengan otak, telah denga piawainya melengapi organ ini dengan suatu peranti, yang mengambil alih dan memberi ekspresi otomatis terhadap segala kebiasaan berpikir.

Kedisiplinan adalah prinsip yang memungkinkan seseorang membentuk pola pemikirannya secara sadar sehingga harmonis dengan target dan tujuannya.

Keisitimewaan ini diikuti dengan tanggung jawab bsar, karena keistimewaan inilah yang paling menentukan posisi seseorang dalam hidupnya.

Seandainya keistimewaan ini disia-siakan lantaran kita gagal membentuk kebiasaan yang dirancang untuk mengantar kita ke pencapaian tujuan yang pasti, maka kondisi kehidupan yang berada di luar kendali kitalah yang akan menunaikan pekerjaan itu. Dan hasilnya tidak jarang teramat buruk!

Setiap manusia adalah sekumpulan kebiasaan. Sebagian diantaranya dibentuk dengan sengaja, dan Sebagian lagi terbentuk secara tidak sengaja. Kebiasaan ini terjadi melalui rasa takut, ragu, cemas, gelisah, rakus, prasangka buruk, iri dan benci.
Kedisiplinan adalah satu-satunya jalan untuk mengendalikan dan mengarahkan kebiasaan berpikir sampai Daya Kebiasaan Semesta mengambil alih dan memberi ekspresi otomatis. Renungkanlah pikiran ini dalam-dalam, karena inilah kunci yang menentukan takdir mental, fisik, dan spiritual Anda.

Anda bisa menata kebiasaan berpikir anda sehingga kebiasaan ini bisa mengantarkan anda ke pencapaian target apa pun yang anda inginkan dan yang terjangkau. Atau anda bisa membiarkan situasi-situasi tak terkendali menguasai kebiasaan berpikir anda sehingga tak diragukan lagi, anda akan diantarkan ke tepian kegagalan dari Sungai Kehidupan.

Anda bisa menjaga pikiran anda tetap tertuju pada hal-hal yang anda inginkan dan hanya memperoleh itu! Atau anda bisa memberinya asupan pemikiran berupa hal-hal yang tidak anda inginkan berpikir berkembang sesuai dengan “makanan” yang berada dalam pikiran anda.

Ini sudah pasti, seperti halnya siang akan disusul dengan malam!

Bangun, bangkit, dan teguhkan pikiran anda untuk hanya tersambung ke situasi yang benar-benar didambakan jiwa anda.

Kerahkan seluruh kekuatan kehendak anda dan kendalikan pikiran anda sepenuhnya. Pikiran adalah milik anda! Ia diberikan pada anda sebagai abdi yang akan mewujudkan keinginan-keinginan anda. Dan tak seorang pun boleh memasuki atau memengaruhinya, sekecil apa pun, tanpa izin dan kerja sama anda. Inilah fakta yang benar-benar dahsyat.

Ingatlah fakta ini apabila situasi yang sepertinya tak bisa anda kendalikan mulai menyusup dan merasuki anda. Ingatlah fakta ini ketika rasa takut dan ragu mulai mengambil tempat dalam pikiran anda. Ingatlah fakta ini ketika rasa takut akan kemiskinan mulai menjalar dalam pikiran anda yang seharusnya diisi dengan “sadar kemakmuran”.

Dan ingatlah pula bahwa inilah disiplin-diri! Satu-satunya metode yang akan menjadikan anda tuan bagi pikiran anda sendiri.

Anda bukanlah cacing yang tercipta untuk merangkak di atas debu.

Jika tidak, anda pasti akan dilengkapi dengan organ fisik yang memungkinkan anda merangkak dengan bertumpu pada perut, alih-alih berjalan dengan kedua kaki. Tubuh Anda telah didesain sedemikian rupa sehingga memungkinkan anda berdiri tegak, berjalan, dan berpikir guna meraih pencapaian tertinggi yang bisa anda pikirkan. Mengapa berpuas hati dengan sesuatu yang kurang dari itu? Apakah anda ingin menghina Sang Pencipta dengan tidak peduli atau abai terhadap berkah paling berharga yang diberikanNya, yakni kekuatan pikiran anda sendiri?

Dikutip dari buku : Secrets of Napoleon Hill’s Mind diterjemahkan dari The Master Key To Riches karya Napoleon Hill, p.277-280

Buku yang mendeskripsikan secara detail filosofi kesuksesan praktis masa kini dan menunjukkan pada Anda bagaimana meraihnya dalam setiap langkah kehidupan.

September 04, 2010

Memaafkan Itu Mulia dan Menyehatkan

Dari pengamatan saya, ada pelajaran sangat menarik dari mereka yang usianya sudah lanjut. Yaitu, senang bersilahturrahmi dan setiap ketemu teman lama saling memaafkan. Mereka ingin sekali ketika suatu saat meninggalkan kampung dunia, lalu berpindah ke kampung akhirat, tidak lagi ada utang-piutang moral maupun material. Tradisi baik ini sangat disenangi Tuhan.

Banyak ayat-ayat AlQuran maupun hadis yang memuji sikap pemaaf. Bahkan Tuhan sendiri memiliki sifat pemaaf. Secara psikologis, saling memafaatkan itu sehat dan menyehatkan. Yang mendapatkan keuntungan pertama dari sikap memaafkan adalah pihak yang memaafkan, bukan yang dimaafkan. Ketika seseorang memaafkan orang yang dibenci, seketika itu juga beban emosinya berkurang. Berat-ringannya memaafkan orang itu berkaitan dengan besar kecilnya rasa kesal atau dendam kita pada seseorang. Semakin dalam rasa kekesalan, kebencian, dan permusuhan kita pada seseorang maka semakin berat kita untuk memaafkannya. Namun, kalau kita bisa memaafkan, muncul rasa lega dan dada terasa lapang. Bukankah menyimpan rasa benci dan dendam merupakan beban di mana pun kita berada? Rasa benci itu juga bagaikan luka. Dan bila kebencian sudah berubah menjadi dendam yang menuntut balas maka luka iu semakin perih sebelum dendam itu terlaksana. Namun, ketika dendam terlaksana, benarkah luka dan beban berat yang dipikul ke mana-mana tadi akan hilang? Pengalaman sehai-hari akan mengatakan “tidak” dan permusuhan akan meningkat, yang bearti semakin dalam kita menyayat kulit hati yang telah terluka dan perih tadi.

“BEGITU KITA MEMAAFKAN SESEORANG MAKA BEBAN BERKURANG, LUKA MEMBAIK. DAN BILA BENCI SERTA DENDAM TELAH HILANG SAMA SEKALI DARI HATI KITA, KEHIDUPAN MENJADI SEHAT DAN RINGAN KITA JALANI”

Jadi, bukanlah sesungguhnya memaafkan itu merupakan suatu terapi jitu untuk kesehatan kita sendiri? Begitu kita memaafkan seseorang maka beban berkurang, luka membaik. Dan bila benci serta dendam telah hilang sama sekali dari hati kita, kehidupan menjadi sehat dan ringan kita jalani. Orang yang memelihara kebencian dalam dirinya, sama halny dengan orang yang memelihara penyakit. Dan iu sungguh suatu tindakan bodoh dan konyol. Jadi, kalau ingin sehat, jadilah pribadi pemaaf. Jangan biarkan berlama-lama dendam dan kebencian bersemayam di hati. Jangan segan-segan mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf serta saling memaafkan setiap harinya. Namun, mesti dijalani secara tulus agar hati kita terputihkan.

Di Indonesia tradisi maaf-memaafkan secara massal telah dikembangkan dalam acara hari raya lebaran. Yang mudah berkunjung pada saudara ataupun tetangga yang lebih tua. Ini tradisi yang sangat bagus yang mesti dilestarikan dari generasi ke generasi. Pesta lebaran tidak saja peristiwa sosial budaya, namun juga peristiwa spiritual sebagai acara tasyakuran sehabis menunaikan ibadah puasa. Lebaran juga memiliki aspek ekonomis. Bisa jadi banyak pedagang yang tidak berpuasa bahkan lebih banyak mengambil keuntungan ekonomi dari peristiwa lebaran daripada mereka yang berpuasa. Lihat saja betapa ramainya pusat-pusat perbelanjaan pada hari-hari menjelang lebaran. Dari sini sudah terlihat bahwa meskipun berpuasa Ramadhan dikenakan pada umat Islam, namun orang lain juga mendapat rahmat dari ibadah puasa. Mestinya sikap keberagamaan iitu, di luar acara puasa dan lebaran, senantiasa menandatangkan manfaat dan kedamaian bagi orang lain, apa pun agamanya.

Ketika orang berpuasa, sesungguhnya juga dilatih dan digembleng untuk menjadi orang yang jujur. Bukankah sikap jujur sangat dibutuhkan oleh profesi apa pun? Jadi, baik puasa maupun lebaran sesungguhnya terkandung pesan dan perbaikan sosial. Antara lain untuk menumbuhkan dan mewujudkan solidaritas sosial sebagaimana diisyaratkan oleh perintah zakat fitrah. Inti dan semangat zakat adalah menutupi jurang perbedaan kelas sehingga menimbulkan kerawanan sosial. Jika tujuan sosial ini tercapai, berarti ibadah seseorang telah berfungsi dalam kehidupan riil sehari-hari.

Dalam kaitan itu, kita bisa mengajukan sebuah pertanyaan pada orang-orang kota yang secara ekonomis telah sukses dan mereka pada waktu lebaran pulang mudik adalah mereka membawa berkah atau fitnah pada orang desa? Kalau pulang ternyata malah menimbulkan iri hati dan kecemburuan sosial, berarti Lebaran telah menimbulkan fitnah berupa keresahan psikologi bagi orang-orang kampung. Oleh karena itu, barang kali bagi orang yang pulang kampung, kapan pun waktunya, bertingkahlah bijaksana dan simpatik sehingga peristiwa Lebaran itu benar-benar membawa berkah, menimbulkan keakraban hati antara sesama sanak-famili maupun kawan lama yang sudah sekian bulan atau tahun tidak berjumpa. Dan inilah arti silaturahmi, yaitu silah berarti tali penghubung atau pengikat rahmi berarti kasaih sayang yang tulus. Nah, peristiwa Lebaran mestinya juga merupakan media penghubung dan bertatap muka secara fisik dan sekaligus antara hati sanubari yang dalam dan tulus.

“ALANGKAH INDAHNYA KALAU SAJA DALAM LINGKUNGAN KELUARGA DAN PERGAULAN KITA SELALU TERJALIN HUBUNGAN CINTA KASIH YANG TULUS, YANG SATU SELALU SIAP MEMAAFKAN YANG LAIN”

Dalam istilah agama, Lebaran disebut Idhul Fitri. Yaitu suatu doa, cita dan harapan, bahwa mereka yang telah selesai menunaikan ibadah puasa, dan kemudian saling memaafkan maka suasana psikologis mereka menjadi bersih, iklas, dan lugas bagaikan bagi. Betapa indahnya perilaku bayi. Apa pun yang dilakukan serba indah dan alami. Orangtua tak akan marah meskipun sang bayi kencing sewaktu dipondong. Mengapa begitu? Salah satu sebabnya adalah hati sang bayi terbebas dari rasa benci. Hatinya tulus dan segala perbuatannya serba lugas. Sementara pihak orangtua pun begitu. Mereka selalu bersikap mencintai dan pemaaf kepada bayinya. Dan ketika bayi semakin besar, kalaupun orangtuanya kadang kala marah, itu bukan karena benci, tetapi karena cintanya yang diwujudkan dalam bentuk marah untuk mendidik anak.

Alangkah indahnya kalau saja dalam lingkungan keluarga dan pergaulan kita selalu terjalin hubungan cinta kasih yang tulus, yang satu selalu siap memaafkan yang lain. Pribadi yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh cinta kasih biasanya akan tumbuh menjadi pribadi yang sehat. Dan memaafkan itu merupakan cerminan kebesaran jiwa seseorang dan sekaligus mendatangkn kebahagian bagi kedua belah pihak.

Taqabballallahu Minna Wa Minkum, Minnal Aidzin Wal Faidzin

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H

Agustus 29, 2010

17 Unsur Kunci Istimewa

Marilah kita amati, bagaimana prinsip-prinsip ini sedemikian berkaitan, bercampur menjadi satu, dan membentuk Master-Key atau Kunci Istimewa, yang membuka pintu menuju pemecahan segala persoalan.

Analisis ini dimulai dengan prinsip pertama :

1. Kebiasaan Berbuat Lebih
Prinsip ini menduduki urutan pertama karena ia membantu individu untuk mengondisikan pikirannya guna memberi sumbangsih yang bermanfaat. Pengondisian ini membuka jalan bagi prinsip kedua.

2. Tujuan Yang Pasti
Dengan bantuan prinsip ini, kita bisa mengatur arah yang mengantarkan ke prinsip Berbuat Lebih, dan memastikan bahwa ia membawa ke arah tujuan utama kita dan menimbulkan efek kumulatif. Dua prinsip ini saja akan membawa siapa pun ke tanga pencapaian yang tinggi. Akan tetapi, orang-orang yang memiliki tujuan kehidupan yang lebih tinggi akan membutuhkan banyak pertolongan di sepanjang perjalanan. Dan bantuan ini tersedia melalui penerapan prinsip ketiga.

3. Master Mind
Melalui penerapan prinsip ini, kita mulai mengalami suatu rasa kekuatan yang baru dan lebih besar, yang tidak dialami jika mengndalkan pikiran orang per orang. Pasalnya, ia menjembatani kekuaangan seseorangdan apabila dibutuhkan, memberinya pengetahuan gabung yang diasilkan umat manusia, yang terakumulasi seiring perjalanan masa. Namun, rasa kekuatan ini tidak akan sempurna sampai kita mengsai seni menerima bimbing melalui prinsip keempat.

4. Keyakinan Aktif
Dari sini, individu mulai menyambungkan diri dengan kekuatan Kecerdasan tak Terbatas. Ini suatu keistimewaan karena hanya tersedia bagi orang yang telah mengondisikan pikirannya secara utuh setelah mengalahkan ketakutan, kecemasan, dan keraguan, dengan jalan menyadari kemanunggalannya dengan sumber segala kekuatan.
Sudah pada tempatnya jika keempat prinsip ini disebut “Empat Besar” karena keempatnya mampu memberi kekuatan yang lebih besar dibandingkan yang dibutuhkan rata-rata orang yang mengantarkannya ke pencapaian yang sangat tinggi. Namun, keempatnya hanya sekadar cukup bagi segelintir orang, karena mereka membutuhkan kualitas kesuksesan lainnya, sepertii yang disediakan oleh prinsip kelima.

5. Kepribadian yang Menyenangkan
Kepribadian yang menyenangkan memungkinkan orang menjual dirinya sendiri dan ide-idenya ke orang lain. Karena itu, prinsip ini penting bagi siapa saja yang ingin menjadi sosok yang memberi pengaruh membimbing dalam kelompok Master-Mindnya. Tapi amatilah dengan cermat, betapa keempat prinsip di atas cenderung menjadikan kita sebagai pribadi yang menyenangkan. Kelima prinsip ini mampu memberikan kekuatan luar biasa pada kita, tetapi tidak cukup untuk mengaliskan kegagalan karena situasi ini muncul berkali-kali dalam kehidupan setiap orang. Karena itulah, memahami dan menjalankan prinsip keenam dalah sebuah keharusan.

6. Kebiasaan Belajar dari Kekalahan
Perhatikanlah, prinsip ini diawali dengan kata “kebiasaan”. Artinya, ia harus diterima dan diterapkan sebagai suatu kebiasaan dalam segala kondisi kekalahan. Dalam prinsip ini terkandung harapan yang cukup untuk mengilhami orang agar memulai langkah baru jika rencananya kacau balau, seperti yang kadang terjadi.
Perhatikanlah berupa sumber kekuatan pribadi meningkat jauh setelah seseorang menerapkan keenam prinsip ini. Ia menemukan arah kehidupannya. Ia menjalin kerja sama bersahabat dalam karya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuannya. Ia menjadikan dirinya berkepribadian menyenangkan sehingga kerja samanya dengan orang lain dipastikan akan langgeng. Ia mengaai seni menghubungkan diri ke smuber kecerdasan tak terbatas dan mengekspresikan kekuatan itu melalau ikeyakinan aktif. Dan ia belajar untuk mengubah kekalahan menjadi batu loncatan. Namun, di luar semua keuntungan ini, orang yang tujuan pastinya mengarah pada suatu titik dalam karirnya, ketika ia membutuhkan manfaat dari prinsip ketujuh.

7. Visi yang Kreatif
Prinsip ini memungkinkan kita memandang ke masa depan dan membandingkannya dengan masa lalu, dan membentuk rencana yang lebih baik untuk meraih hrapan dan target melalui pengolahan imajinasinya. Dan di sini, barangkali untuk pertama kalinya, seseorang bisa menemukan indra keenamnya dan mulai memanfaatkannya untuk memperoleh pengetahuan yang tidak bisa didapat dari pengalaman manusia dan akumulasi pengetahuan sepanjang sejarah. Akan tetapi, untuk memastikan keistimwaan ini bisa memiliki kegunaan praktis, orang tersebut harus memahami dan menerapkan prinsip kedelapan.

8. Inisiatif Pribadi
Prinsip inilah yang mengawali aksi dan membuatnya terus berjalan hingga mencapai tujuan yang pasti. Prinsip ini menghindari seseorang dari kebiasaan destrutif, seperti bemewah-mewah, apatis, dan malas. Pentingnya prinsip ini barangkali bisa diketahui dengan menyadari bahwa ia adalah “pencipta-kebiasaan” dalam hubungannya dengan ketujuh prinsip pertama. Karena, suah jelas bahwa penerapan prinsip-prinsip ini tak akan menjadi kebiasaan kecuali dengan adanya inisiatif pribadi. Peran penting prinsip ini bisa dievaluasi lebih jauh dengan mengakui fakta bhwa ia adalah satu-satunya sarana yang memungkinkan orang menjalankan dan mengendalikan secara penuh satu-satunya fakultas yang hak untuk mengendalikannya telah diserahkan oleh Sang Pencipta ke orang yang bersangkutan, yakni kekuatan pemikirannya sendiri.

9. Pemikiran yang Akurat
Pemikiran akurat tidak hanya menghindarkan kita dari inisiatif yang keliru, tetapi juga dari salah penilaian, sikap menebak-nebak, dan keputusan prematur. Ia juga menghindarkan kita dari pengaruh emosi yang tak bisa diandalkan dengan mengubah emosi itu melalui kekuatan nalar yang dikenal sebagai “kepala”.
Di sini, individu yng telah menguasai kesembilan prinsip di atas akan memiliki kekuatan yang luar biasa. Akan tetapi, kekuatan pribadi boleh jadi, dan sering kali, adalah kekuatan yang berbahaya jika tidak dikendalikan dan diarahkan melalui prinsip kesepuluh.

10. Disiplin-Diri
Kedisiplinan tidak bisa dimiliki hanya dengan meminta, juga tidak bisa dimiliki segera. Ia adalah produk kebiasaan yang telah terbentuk dan dijaga dengan saksama, yang dalam banyak kasus hanya bisa dimiliki setelah bertahun-tahun berusaha keras. Jadi, kita telah sampai pada titik tempat kekuatan keinginan harus diwujudkan ke dalam aksi, karena disiplin adalah anak kandung keinginan.
Banyak sekali orang yang telah memiliki kekuasaan besar dengan menerapkan sembilan prinsip di atas, hanya untuk bertemu dengan bencana, atau menjerumuskan orang lain ke kekalahan lantaran mereka tidak disiplin dalam menggunakan kekuatannya.
Jika dikuasai dan diterapkan, prinsip ini memberikan kendali penuh untuk mengalahkan mmusuh terbesar kita, yakni diri kita sendiri!
Kedisiplinan harus dimulai dengan menerapkan prinsip kesebelas.

11. Konsentrasi Ikhtiar
Kekuatan berkonsentrasi juga adalah produk keinginan. Begitu dekatnya hubungan konsentrasi dengan kedisiplinan hingga keduanya dijuluki “saudara kembar”. Konsentrasi membuat kita tidak membuang-buang energi secara percuma, dan membantu pikiran kita tetap terfokus pada objek Tujuan Utama yang Pasti, yang telah diambil alih oleh alam pikiran bawah sadar dan disiapkan untuk diubah menjadi padanan fisiknya, melalui hukuam Daya Kebiasaan Semesta. Ia adalah mata kamera imajinasi yang merekam garis besar target dan tujuan kita, lalu menyimpannya di alam bawah sadar sehingga tidak akan hilang.
Sekarang perhatikanlah lagi, dan lihatlah berapa besar perkembangan kekuatan pribadi seseorang jika ia mengamalkan kesebelas prinsip ini. Akan tetapi, semua ini masih belum cukup untuk menghadapi segala situasi kehidupan. Pasalnya, ada saat-saat ketika kita harus menjalin kerja sama bersahabat dengan banyak orang, seumpama pelanggan bisnis, atau klien dalam suatu profesi, atau pemberi suara dalam pemilihan pejabat publik. Semua ini bisa tercapai dengan mengamalkan prinsip kedua belas.

12. Kerja Sama
Berbeda dengan prinsip Master Mind, kerja sama adalah hubungan manusia yang dibutuhkan, dan bisa diperoleh dengan penggabungan pikiran yang sempurna untuk mencapai tujuan yang pasti, tanpa harus membentuk kelompok dengan orang lain.
Tanpa bekerja sama dengan orang lain, kita tidak bisa meraih kesuksesan yang tergolong sebagai pencapaian yang tinggi. Karena kerja sama adalah sarana yang sangat bernilai dan memungkinkan orang memperlebar ruang dalam benak orang lain yang ditujukan baginya, atau kadang disebut good will. Kerja sama yang bersahabat membuat pelanggan datang kembali untuk membeli barang-barang sorang pedagang, dan menjamin munculnya rasa percaya di hati para Klien. Karena itulah prinsip ini menjadi pegangan orang sukses, apa pun pekerjaan yang ditekuninya. Kerja sama akan tercapai dengan lebih terbuka dan lebih sukarela jika prinsip ketiga belas diamalkan.

13. Antusiasme
Antusiasme adalah kondisi pikiran yang bisa ditularkan. Antusiasme tidak hanya membantu seseorang mendapatkan kerja sama dari orang lain, tetapi yang lebih penting, ia mengilhami seseorang untuk menemukan dan menggunakan kekuatan imajinasinya sendiri. Dan dalam bentuk inisiatif, ia juga mengilhami seseorang untuk menemukan dan menggunakan kekuatan imajinasinya sendiri. Dan dalam bentuk inisiatif, ia juga mengilhami seseorang untuk beraksi dan membuatnya memiliki kebiasaan untuk berkonsentrasi pada usaha. Lebih jauh lagi, ia adalah salah satu kualitas penting dari kepribadian yang menyenangkan, dan ia menjadikan prinsip Berbuat Lebih menjadi mudah untuk diamalkan. Sebagai tambahan, antusiasme memberi kekuatan dan pembuktian terhadap kata-kata yang telah diucapkan.
Antusiasme adalah anak kandung motif, tetapi sulit dipertahankan tanpa bantuan prinsip keempat belas.

14. Kebiasaan Menjaga Kesehatan
Fisik yang sehat menjadi rumah yang tepat bagi beroperasinya pikiran. Karena itulah, faktor ini sangat penting untuk mencapai kesuksesan yang langgeng, dengan menganggap kata “sukses” mencakup seluruh pernyataan untuk berbahagia.
Lagi-lagi kata “kebiasaan” hadir, karena fisik yang sehat berawal pikiran “sadar sehat”, yang hanya bisa dibentuk dengan kebiasaan hidup yang tepat, dan dipertahankan melalui kedisiplinan.
Fisik yang sehat memberi landasan bagi munculnya antusiasme, dan antusiasme mendorong kesehatan. Jadi keduanya seperti telur dan aya, tak bisa ditentukan yang mana yang lebih dulu. Namun semua orang tahu, keduanya sangat penting bagi terciptanya masing-masing. Kesehatan dan antusiasme memang seperti itu. Keduanya sangat penting untuk mencapai kemajuan dan kebahagiaan.
Sekarang, datalah kembali dan hitunglah kekuatan-kekuatan yang bisa dicapai dengan mengamalkan keempat belas prinsip ini. Totalnya luar biasa hingga tak bisa kita bayangkan. Namun, masih belum memadai untuk menghindari kita dari kesalahan. Karena itu, masukkanlah pula pinsip kelima belas.

15. Mengatur Waktu dan Uang
Waduh, menghemat waktu dan mengatur uang memang membikin banyak orang sakit kepala. Hampir semua orang ingin menghabiskan waktu dan uang dengan sebebas-bebasnya, bukannya harus membuat anggaran dan mengaturnya. Akan tetapi, kemerdekaan dan kemandirian tubuh dan pikiran tidak akan menjadi realitas yang kekal tanpa disertai kedisiplinan membuat perencanaan. Dengan begitu, prinsip ini sangatlah penting dalam falsafah pencapaian manusia.
Sekarang kita sampai pada puncak pencapaian kekuatan. Kita telah mempelajari sumber-sumber kekuatan dan bagaimana kita bisa mendapatkannya dan mengaplikasikannya secara sengaja untuk tujuan apa pun. Dan kekuatan itu sekaligus besarnya hinga tak ada seorang pun yang tidak menginginkannya. Namun tak bisa dipungkiri, ada sejumlah individu yang kurang bijaksana dalam menggunakan kekuatan tersebut, hingga berujung pada kehancuran dirinya sendiri dan orang lain. Karena itulah, agar bisa memanfaatkan kekuatan seperti seharusnya, kita harus memasukkan pula prinsip keenam belas berikut ini.

16. Pengamalan Kaidah Emas
Perhatikanlah penekanan pada kata “pengamalan”. Memercayai kebenaran Kaidah Emas saja tidaklah cukup. Demi memperoleh manfaat yang kekal, dan agar pedoman itu bertindak sebagai pembimbing dalam penggunaan kekuatan pribadi maka ia harus diamalkan sebagai suatu kebiasaan, dalam segala bentuk hubungan manusia.
Ini merupakan keharusan. Namun manfaat yang diperoleh dengan mengamalkan aturan penting ini menjadikan upaya membentuknya menjadi kebiasaan sebagai sesuatu yang sangat layak. Akibat buruk yang muncul jika aturan ini gagal dijalankan terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu.
Sekarang, kita telah mencapai kekuatan pribadi yang hakiki, dan kita telah membekali diri dengan benteng penangkal pelanggan. Dari titik ini hingga seterusnya, yang kita butuhkan adalah cara untuk menjadikan kekuatan ini permanen. Karena itu, kita akan mencapai puncak falsafah ini dengan satu-satunya prinsip yang diketahui bisa mengantar kita ke sana – prinsip ketujuh belas sekaligus pamungkas falsafah ini.

17. Daya Kebiasaan Semesta
Daya kebiasaan semesat adalah prinsip yang memantapkan segala kebiasaan dan menjadinya permanen dalam tingkat yang bervariasi. Seperti yang telah dikemukakan, ia adalah prinsip pengendali keseluruhan falsafah ini, yang menjadi keenam belas prinsip tersebut bercampur menjadi satu kesatuan. Dan ia adalah prinsip yang mengendalikan seluruh hukum semesta. Ia juga prinsip yang memantapkan kebiasaan dalam mengamalkan prinsip-prinsip pendahulunya. Jadi, ia adalah faktor penentu dalam mengondisikan pikiran guna terbentuknya sikap “Sadar Kesejahteraan” yang teramat penting untuk mencapai kesuksesan.
Memahami keenam belas prinsip saja tidak akan mengantar siapa pun pencapaian kekuatan. Prinsip-prinsip ini harus dipahami dan diamalkan sebagai suatu kebiasaan ketat, dan kebiasaan adalah karya semata wayang bukum Daya Kebiasaan Semesta.
Daya Kebiasaan Semesta tak ubahnya Sungai kehidupan. Sudah banyak referensi tentangya, karena sungai ini berisi potensi-potensi negatif dan positif, sebagaimana segala diri setiap manusia.
Namun inilah satu-satunya cara untuk menjadikan “sadar kemiskinan” sebagai kebiasaan yang mantap!
Ia merupakan pembentuk segala kebiasaan baku seumpama rasa takut ini, rakus, dendam, dan mengharap mendapatkan sesuatu tanpa berusaha.
Ia memantapkan kebiasaan tak peduli dan putus asa.
Dan ia adalah pembentuk kebiasaan hipokondria, yang diderita jutaan orang sepanjang hidupnya, berupa penyakit imajiner.
Ia jugalah yang membentuk sikap “sadar kegagalan” yang menggencet kepercayaan diri jutaan orang.
Ringkasnya, ia memantapkan segala kebiasaan negatif, apa pun efeknya. Karena itulah, sehubungan dengan Sungai Kehidupan, ia berada di “tepian kegagalan” nya.
Adapun “tepian kesuksesan” sisi yang positif memantapkan segala kebisaan yang konstruktif. Umpamanya kebiasaan memiliki Tujuan yang Pasti, kebiasaan Berbuat Lebih, kebiasaan mengamalkan Kaidah Emas dalam segala relasi, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya yang harus kita kembangkan dan amalkan demi memperoleh manfaat dari keenam belas prinsip terdahulu dalam falsafah ini.

Agustus 25, 2010

Tips Mempertahankan Kedisiplinan

Bagan ini mempersembahkan dan mengungkapkan enam bagian pikiran yang memiliki kemampuan untuk mempertahankan kedisiplinan dengan mudahnya.



Bagian-bagian ini dinomori sesuai peran penting masing-masing, meski siapa pun tidak mungkin memastikan bagian mana yang lebih penting daripada yang lainnya, karena masing-masing bagian adalah faktor esensial dalam mengekspresikan pemikiran.
Kami tak punya pilihan selain menempatkan ego, tempat bersemayamnya kekuatan-kehendak, dalam posisi pertama.

Pasalnya, Kekuatan-kehendak (ego) bisa mengendalikan seluruh bagian pikiran lainnya, dan wajar jika disebut “Mahkamah Agung” nya pikiran, yang keputusannya bersifat final dan bukan menjadi target mahkamah tinggi mana pun.

Fakultas emosi menempati posisi kedua lantaran sudah menjadi rahasia umum bahwa kebanyakan orang dikendalikan oleh emosi mereka. Karena itulah fakultas ini berada di bawah “Mahkamah Agung”.

Fakultas nalar menempati posisi ketiga karena memiliki efek memodifikasi yang menyiapkan aksi emosional untuk dimanfaatkan secara aman. Pikiran yang “seimbang” adalah pikiran yang mewakili suatu kompromi antara fakultas emosi dengan fakultas nalar. Kompromi ini biasanya dijalankan oleh “Mahkamah Agung”, tepatnya fakultas kehendak.

Fakultas kehendak kadang memutuskan emosi mana yang berlaku. Di kali ini, ia berpihak pada fakultas nalar, tetapi dialah yang memberi kata akhir. Dan ke bagian mana pun ia berpihak berarti bagian itulah yang dimenangkan dalam perselisihan antara nalar dengan emosi.

Betapa luar biasanya sistem ini!

Fakultas imajinasi mendapat posisi keempat karena ia adalah bagian yang menciptakan ide, rencana, juga cara dan alasan untuk mencapai tujuan, yang kesemuanya diilhami oleh fakultas emosi atau fakultas kehendak.

Barangkali anda berpendapat bahwa fakultas imajinasi berfungsi sebagai “komite cara dan sarana” bagi pikiran. Akan tetapi, tidak jarang fakultas ini bertindak sendiri dan melakukan eksplorasi fantastis di tempat-tempat yang tak memiliki kaitan absah dengan fakultas kehendak. Dalam perjalanan atas dorongan sendiri ini, imajinasi sering kali berperan penuh, bekerja sama, dan mendorong emosi. Itulah sebabnya mengapa semua keinginan yang berasal dari fakultas emosi harus dicermati benar oleh fakultas nalar, bahkan jika perlu dijaga ketat oleh fakultas kehendak.

Apabila emosi dan imajinasi lolos dari pengawasan nalar dan kendali kehendak, keduanya akan menyerupai sepasang bocah bandel yang memutuskan untuk bolos sekolah, dan bermain-main di kolam renang, atau mencuri semangka di kebun tetangga.
Tak ada kenakalan yang tak bisa dilakukan keduanya. Karena itulah, emosi dan imajinasi harus lebih didisiplinkan daripada fakultas-fakultas pikiran lain digabungkan menjadi satu. Camkanlah hal ini!

Dua bagian lainnya, kesadaran dan memori, harus bersatu. Dan meskipun penting, mereka berada di posisi terakhir dalam bagan di atas.

Sedangkan alam pikiran bawah sadar mendapat posisi di atas keenam bagian pikiran lainnya. Pasalnya, dialah jembatan penghubung antara pikiran sadar dengan Kecerdasan Tak Terbatas, dan medium yang memungkinkan semua bagian pikiran menerima kekuatan pemikiran.

Alam pikiran bawah sadar bukanlah objek pengendalian, melainkan objek yang dipengaruhi, dengan sarana yang telah dijelaskan. Ia bertindak sendiri, dan secara sengaja, meskipun tindakannya bisa dipercepat dengan mengintensifkan emosi, atau mengamalkan kekuatan kehendak dalam tingkat tinggi.

Keinginan kuat di balik Tujuan Utama yang pasti bisa mendorong aksi pikiran bawah sadar dan mempercepat kerjanya.

Copyright © / dillablog

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger